s
enTRpreneurS NEWS Edisi Perdana
11 Desember 2009 12:41
enTRpreneur$ NEWS edisi perdana diterbitkan pada bulan Desember 2009. enTRpreneru$ NEWS dapat menjadi sebuah dukungan more..
s
02 Desember 2009 12:50

Berbisnis dengan Penuh Integritas

Jika suatu hari anda more..

s
Wiempi
05 November 2009 10:17

Very inspiring.. motivate me to do something out of the box..

more..
s
Saya dilahirkan dari keluarga yang miskin. Seumur hidup saya juga tidak mengecap pendidikan yang tinggi. Tapi selama ini saya membaca dari koran atau majalah bekas, banyak orang yang tidak beruntung seperti saya bisa sukses. Apakah itu karena pengaruh bakat atau faktor hoki semata? Mohon pencerahannya. more..
 


 12 Mei 2009 01:44 

Tony Fernandez – Air Asia

Banyak orang selalu ingin bisa mencapai impian besar, tapi dalam hatinya sendiri tidak meyakininya karena yang diimpikannya masih berbentuk abstrak. Banyak alasan diungkapkan seperti “Saya belum siap”, “Latar belakang saya tidak mendukung”, “Saya belum ada modal”, dan beribu alasan lainnya. Tapi, apa yang dilakukan oleh orang-orang berani yang kemudian sukses luar biasa?

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Tony Fernandez, tokoh utama di balik kesuksesan Air Asia. Rupanya, sebelum bergabung dengan Air Asia, Tony sama sekali tidak mengenal seluk beluk bisnis jasa penerbangan. Awalnya ia berkarier di bidang entertainment, tepatnya di perusahaan rekaman Warner Music. Sebuah jenis pekerjaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bisnis penerbangan. Tapi, demi merealisasi mimpinya, Tony tidak peduli. Dengan keyakinan penuh, dia memulai bisnis penerbangan tersebut. Akhirnya, sekarang ia berhasil menjadikan maskapai yang populer dengan slogannya ‘Everyone can fly’ ke prestasi puncak. Hanya dalam waktu tiga tahun, Air Asia sudah mendapat tempat di hati masyarakat karena tiket murahnya. Banyak orang yang dulu hanya bisa melihat pesawat melintas di atas rumah mereka dan menganggap naik pesawat hanya mimpi, kini dengan harga yang terjangkau, banyak orang bisa naik pesawat ke berbagai tempat.

Yang menarik dari kisah hidup Tony Fernandez adalah dia tidak pernah mengenal kata “TIDAK”. Tapi “Harus BISA!” Apa pun pekerjaan dan tanggung jawab yang diserahkan kepadanya, Tony percaya pasti bisa melakukannya, asalkan yakin dan mau menjalankan. Seperti ketika mulai menangani Air Asia, walaupun belum mengetahui banyak hal di dunia penerbangan, Tony mencermati bisnis itu dengan saksama. Ia memperhatikan segala hal yang bisa membuat harga tiket pesawat jadi murah.

Pertama, ia mencari bandara yang bisa disewa dengan harga murah. Kedua, memilih rute penerbangan yang jarak tempuhnya pendek sehingga tak perlu menginapkan crew di hotel. Pramugari maupun pilot bisa berangkat pagi, pulang malam. Jadi tidak perlu menyiapkan crew tambahan. Ketiga, berkat kecanggihan teknologi, orang tidak memerlukan kertas tiket ataupun sewa counter, karena semua itu bisa dilakukan dengan menggunakan sistem pembayaran online. Dengan berbagai penghematan itu berhasil membuat Air Asia menjadi maskapai dengan harga tiket murah meriah.

Tony Fernandez adalah sebuah contoh dari orang yang “Yakin Bisa Sebelum Melihat”. Dari awal, Tony sudah yakin mampu dan bisa mengembangkan Air Asia, meskipun belum melihat seperti apa hasilnya nanti. Tony bukan seorang paranormal yang bisa menerawang jalan hidupnya kelak. Modalnya hanya sikap optimis terhadap apa yang diyakininya benar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Semua jerih payahnya kini terbayar sudah, keyakinannya ternyata benar, hingga mimpi besarnya dapat terwujud.

Para pembaca yang luar biasa, kisah Tony Fernandez bukan hanya soal kesungguhan hati (keyakinan) semata. Saya juga menemukan bahwa jika kita memiliki keinginan diikuti dengan motivasi yang tinggi dan percaya kalau hal itu tersebut bisa direalisasikan, maka kita akan menemukan cara untuk mengatasi kendala dan mampu mencapai tujuan.

“Percaya” kalau anda pasti bisa merealisasikan mimpi-mimpi, “belajar” bagaimana agar mimpi tersebut bisa dicapai, “lakukan” dengan segera. Sukses luar biasa akan menjadi milik anda.

Keep in Believing-Learning-Action!

Salam sukses Luar Biasa!

Saya, Thomas Sugiarto akan selalu bersama anda untuk mencapai sukses ber-income Rp.100juta per bulan.

Thomas Sugiarto
 20 April 2009 05:31 

Blueberry Cheese Approach (Pendekatan Bisnis)

The more you give, the more you get...

Suatu waktu di bulan Oktober saat hari ulang tahun saya, saya datang ke kantor sambil membawa kue blueberry cheese untuk makan bersama. Salah seorang teman, sebutlah namanya Astuti, seorang agen asuransi, ia menghampiri saya untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun dan berterima kasih karena kuenya enak sekali. Lalu saya berkata: “Apakah kamu tahu, saya sudah menghasilkan ratusan juta rupiah melalui “Blueberry cheese approach?” Ia pun terheran-heran. Lalu saya melanjutkan, “Kue blueberry cheese ini selalu saya berikan kepada nasabah atau calon nasabah saya untuk membangun hubungan baik dulu sebelum saya bicara tentang bisnis. Alhasil, hubungan kami menjadi sangat dekat dan bisnis pun terjadi dengan lancar.”

Pada malam harinya, Astuti tidak bisa tidur karena memikirkan ”Blueberry cheese approach”. Pendekatan ini memang membutuhkan investasi uang yang cukup besar baginya. Padahal dengan uang tersebut, ia bisa menggunakan jasa angkutan umum hingga 60-100 kali. Di lain sisi, ia juga berpikir kalau Pak Thomas sendiri maupun timnya sudah menerapkannya, keberhasilannya pun sudah terbukti ampuh. Mengapa tidak berani ambil resiko untuk dicoba?

Akhirnya dengan modal keyakinan, Astuti membeli sebuah kue blueberry cheese. Dengan menggunakan transportasi umum, ia menuju ke rumah calon nasabahnya. Nasabah tersebut adalah nasabah yang sudah menandatangani proposal asuransi tapi sudah setahun belum melakukan medical check up. Pada malam harinya, nasabah itu menelepon dan mengucapkan terima kasih, ia tersentuh karena tahu bahwa harga kue ini sangatlah mahal untuk Astuti. Akhir cerita, keesokan harinya nasabah itu melakukan medical check up dan langsung membayar premi yang pertama.

Di lain kesempatan, Astuti memberikan kue blueberry cheese kepada salah satu nasabahnya yang sudah memiliki 7 buah program asuransi. Nasabah tersebut juga sangat tersentuh. Alhasil, Astuti mendapatkan tujuh Top Up baru atas tujuh polis asuransi dari nasabahnya tersebut.

Beberapa waktu lalu, Astuti melakukan follow up untuk presentasi lanjutan kepada sebuah perusahaan mengenai program perlindungan karyawan. Tiba-tiba acaranya dibatalkan karena Presdir yang berwenang sedang sakit. Naluri Astuti pun mulai terasah, dia tidak mau kehilangan peluang dengan cara menunggu saja, Astuti segera mencari tahu dimana rumah Presdir tersebut. Setelah didapat alamatnya, ia mengantarkan kue blueberry cheese beserta kartu “Semoga lekas sembuh” ke rumah beliau. Keesokan harinya, Astuti ditelepon Presdir itu, beliau sangat terharu karena baru kali ini ada orang yang mengirimkan kue saat dia sedang sakit. Ia bersedia meluangkan waktu cuti sakitnya untuk berbincang-bincang dengan Astuti di rumahnya. Akhirnya, beliau pribadi justru membuka 3 buah program asuransi untuk keluarganya dan menyetujui 60 program asuransi untuk karyawan di perusahaannya.

Para pembaca yang luar biasa, kue blueberry cheese yang harganya sekitar Rp.200.000,- memang cukup mahal, akan tetapi kue itu mampu menjadi “penghubung ikatan batin” untuk menciptakan bisnis yang nilainya hingga ratusan juta rupiah. “Return on Invesment”-nya bisa mencapai puluhan ribu persen hanya dalam waktu sebentar bukan?

Inilah prinsip “The more you give, the more you get”. Pada dasarnya, penerapan prinsip ini tidak selalu dengan pemberian barang. Tapi bisa berupa bantuan apapun yang bersifat nilai tambah bagi orang lain seperti memberikan informasi ataupun referensi.

Nah, bagaimana dengan anda? Mulailah dengan melakukan hal-hal kecil, misalnya suka men-traktir teman. Dengan demikian anda akan terbiasa ketika akan berinvestasi untuk men-traktir nasabah maupun calon nasabah. Bisnis besar akan menjadi milik anda.

Keep in Believing-Learning-Action!

Salam Sukses Luar Biasa.

Saya, Thomas Sugiarto akan selalu bersama anda untuk mencapai sukses ber-income Rp.100juta per bulan.

Thomas Sugiarto
 23 Maret 2009 15:13 

All You Can Eat

Beberapa tahun yang lalu, ada seseorang yang bertanya kepada saya, apakah dia boleh mempunyai impian yang besar? Seperti memiliki rumah bertingkat dengan halaman luas, sementara kondisi keuangannya pada saat itu jelas tidak memungkinkan hal itu terwujud, bahkan berhemat bertahun-tahun pun belum tentu membantu merealisasikan impiannya. Setelah mendengar ungkapan hatinya, akhirnya saya menuturkan sebuah cerita tentang Joko dan Jono yang hendak makan di restoran “All You Can Eat”. Begini ceritanya.

Pada suatu hari, Joko yang sudah hidup makmur di kota mengajak teman sekolah semasa di desa, bernama Jono, yang baru datang ke Jakarta untuk makan di restoran “All You Can Eat”. Joko tahu Jono pasti sedang sangat lapar dan juga belum pernah makan makanan yang enak di kota.
Tiba-tiba, Hp Joko berbunyi dan dia mengangkat telepon. Ini adalah telepon dari klien besar Joko dari luar negeri. Karena sinyal tidak bagus, Joko pamit pada Jono untuk menelepon di luar restoran. Joko minta Jono agar makan apa saja yang dia suka dan jangan tunggu dia kembali karena dia harus telepon ke luar dulu.

Karena Jono terbiasa dengan hidup susah di desa, hanya dengan melihat nasi berkepul saja dia sudah sangat senang sekali. Lalu, ia menyantap nasi putih dengan lahap dan tambah beberapa kali. Namun, ia tidak berani mengambil makanan lain, karena takut harganya terlalu mahal. Akhirnya ia hanya makan nasi putih, minumnya pun hanya air putih saja karena tidak pernah minum minuman lain. Di dalam hatinya berkata, “Ah, saya makan nasi dan air putih saja agar bisa menghemat uang Joko”.

Ketika Joko kembali, ia terheran melihat hanya ada piring nasi dan air putih saja di depan Jono. Tidak ada sisa makanan lain sedikit pun. Dengan penuh rasa ingin tahu Joko bertanya, “Lho, kamu kok makan nasi putih dan air putih saja? Kenapa tidak makan yang lain?” Dengan mimik kekenyangan, Jono menjawab “Wah, saya makan nasi dan air putih saja, agar kamu tidak usah bayar terlalu mahal!”
Ketika mendengar jawaban itu, Joko hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut atas “ketidak-tahuan” temannya itu.

Para pembaca yang budiman, “Sesungguhnya kesempatan ada dimana-mana bagi setiap orang”. Jika banyak orang mengatakan bahwa jaman sekarang adalah jaman yang susah dan resesi ekonomi terus melanda, saya yakin pasti tetap selalu ada banyak kesempatan bagi kita semua untuk dapat berhasil dan maju. Namun terkadang kita bertindak seperti Jono, hanya memakan nasi putih dan minum air putih saja, padahal kita bisa makan daging ataupun makan makanan yang enak jika kita mengetahuinya.

Tuhan telah menyediakan segalanya agar kita bisa meraih dan menikmatinya, bahkan dari sejak kita dilahirkan. Apakah kita berani bermimpi untuk menikmati kualitas hidup yang enak atau bahkan lebih enak lagi? Atau kita sudah puas dengan kualitas hidup yang biasa-biasa saja?

Jangan biarkan “ketidak tahuan” membuat anda tidak mendapatkan apa yang selayaknya bisa anda dapatkan, yaitu kesuksesan yang luar biasa, bahkan mungkin melebihi apa yang anda dapatkan sekarang.

Keep in Believing-Learning-Action!

Salam sukses luar biasa.

Saya, Thomas Sugiarto akan selalu bersama anda untuk mencapai sukses ber-income Rp.100juta per bulan.


Thomas Sugiarto
 20 Maret 2009 14:06 
Mindset Dalam Menghadapi Kegagalan
Banyak orang dalam perjalanan mencapai sukses, sering kali mengalami kegagalan demi kegagalan secara beruntun. Pada akhirnya membuat mereka menyerah. Tapi apakah benar mereka gagal? Sebenarnya, kemungkinanbesar mereka tidaklah gagal, tetapi menyerah terlalu cepat untuk mencapai sukses.
Kegagalan dalam suatu bidang usaha dimana banyak orang yang sudah terbukti bisa sukses, sebenarnya tidak akan terjadi,asalkankitamau belajar dari orang yang sukses dibidang tersebut dan kita mengerti tentang konsep “Large Number atau konsep “Angka Besar.
Konsep inilah yang digunakan oleh Kolonel Sanders yang berhasil menawarkan resep KFC-nya pada orang ke 1008 dan juga Thomas Alva Edison yang berhasil menciptakan lampu pijar pada percobaan ke 10.082.
Konsep ini sudah biasa digunakan dalam kehidupan umum. Bahkan digunakan juga oleh para pengemis! Coba saja anda simak, di perempatan lampu merah manapun dapat dijumpai banyak pengemis. Saat mobil berhenti, pengemis akan datang dan dengan nada memelas menyampaikan kepada kita, “Pak, sudah 2 hari saya belum makan Pak!, Pintanya berkali-kali. Jika kita tidak hiraukan, maka mereka akan pergi dan pindah ke mobil berikutnya.  Dipampanglah mimik wajah yang lemas dan berkata lagi, Bu, 2 hari saya belum makan, tolong saya Bu...!”. Hal ini dilakukannya berkali-kali sampai ada yang mau memberikan uang kepadanya karena rasa tidak tega. Jika lampu hijau menyala, mereka akan pergi, dan kembali lagi saat lampu merah. Karena mereka percaya, dari sekian banyak pengemudi, pasti ada satu-dua orang yang iba. Hal ini berlanjut terus dari pagi sampai sore. Dan para pengemis pun bisa mendapatkan uang yang cukup banyak. Bahkan, sebuah rumor dari luar negeri, ada orang muda terdidik yang khusus menjadi pengemis sebagai profesi hingga bisa membeli sebuah apartemen. Nah, mengapa ini bisa terjadi? Karena mereka memahami konsep “Large Number”.
Konsep “large number” juga banyak digunakan dalam berbagai industri penjualan. Di industri tertentu, berdasarkan data statistik, kalau  kita menawarkan produk kepada 10 orang, maka ada kemungkinan 1 orang yang mau. Mungkin anda pernah berkata, “Wah, saya sudah lakukan 10x bahkan sampai 15x, tapi belum ada yang mau juga!
Bisa jadi memang betul anda belum berhasil, tapi apakah faktor eksternal yang menyebabkan ketidakberhasilan itu? Sudahkan anda periksa diri? Apakah pada saat bertemu orang, penampilan dan cara bicara sudah profesional? Apakah anda benar-benar mengerti kebutuhan lawan bicara?Sudahkan berkonsultasi dengan seorang mentor handal? Coba anda renungkan.
Nah, untuk mendapatkan hasil yang optimal dari konsep ini, anda bisa memadukan konsep “Large Number” dengan berpikir positif sehingga merubah cara anda dalam berpikir dan bertindak. Begini caranya, misalkan omzet untuk penjualan anda kepada 1 orang itu Rp. 10jt. Simple saja, Rp. 10jt itu dibagi rata ke 10 orang. Jadi, setiap bertemu 1 orang berarti nilainya Rp. 1jt. Jika orang pertama tidak mau, maka anda berkata, “walaupun belum mau, Waah, saya sudah dapat Rp. 1jt! Jika yang ke 2 tidak mau juga, maka anda pun berkata, “Wah.. saya sudah dapat Rp. 2jt nih! dan seterusnya.
Nah,kondisi ini akan membuat anda lebih bersemangat dan antusias sehingga akan menular ke lawan bicara. Semakin mendekati orang yang ke 10, maka anda akan semakin mendekati ke penjualan yang sesungguhnya. Dalam prakteknya, transaksi bisa terjadi pada orang ketujuh bahkan orang ketiga atau keempat..
Jadi, ubahlah mindset anda! Maka Puncak Kesuksesan akan berada di anak tangga berikutnya!

Keep in Believing-Learning-Action!

Salam sukses luar biasa.

Saya, Thomas Sugiarto akan selalu bersama anda untuk mencapai sukses ber-income Rp.100juta per bulan.

Thomas Sugiarto

page : 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38